Ciri – ciri Badak Jawa dan Badak Sumatra
Badak jawa berukuran panjang 305 – 320 cm. kulit berwarna abu – abu gelap dan berlipat – lipat, serta tidak mempunyai rambut. Badak ini bercula satu, akan tetapi pada betina kurang jelas sehingga tampak seperti tidak bercula.
Badak sumatra merupakan badak terkecil di dunia, tingginya sekitar 100 – 135 cm, panjang 250 – 280 cm, dan berat 800 – 1000 kg. kulit badak sumatra tidak mempunyai lipatan yang jelas, dan kultnya mempunyai rambut, badak ini bercula dua tapi sering kali cula kedua tidak begitu jelas dan hany seperti benjolan.
Kedua spesies tersebut merupakanhewan pemakan tumbuhan. Mereka memakan lebih dari 100 spesies tanaman dari 61 famili tanaman. Untuk hidupnya badak memerlukan daerah yang luas, sekitar 100 km² per badak. Urin dan butiran kotoran berguna untuk menandai daerah kekuasaannya atau kehadirannya.
Badak jawa dan sumatra merupakan hewan langka di dunia. Hal tersebut tersebut di tetapkan oleh WWF (World Fun for Nature) dan IUCN(International Union for Conservation of Nature and Natura). Hewan tersebut juga dilindungi oleh pemerintah indosnesia.
Pemusatan hewan di satu tempat dapat berbahaya jika terjadi bencana alam, letusan gunung bearapi, kelaparan, perburuann oleh manusia, dan penyakit. Sebagai contoh adalah terjadinya kematian misterius 5 ekor badak Jawa di ujung kulon pada tahun 1982 yang di duga akibat inveksi sejenis antrax yang biasanya menyerang ternak.
Badak diburu secara ilegal terutama untuk di ambil culanya, culanya dipercaya banyak orang dapat menyembuhkan demam dan menambah kekuatan. Sebenarnya cula badak tersusun atas karatin, sama seperti bahan penyusun kuku dan rambut manusia.
Badak mempunyai pola perjalanan yang sama. Dengan kata lain, badak selalu melalui jalan yang sama untuk menuju suatu tempat. Hal ini memudahkan pemburu membuat perangkap untuk menangkapnya. Pemburu hanya badak masuk perangkapnya kemudian membunuhnya.
Badak juga terancam punah karena habitatnya rusak oleh pembatasan hutan untuk pertanian, industri, dan tempat tinggal manusia. Keadaan ini menyebabkan badak menyingkir ke hutan yang lebih tinggi. Padahal sebenarnya badak lebih menyukai hutan lebat di dataranrendah yang berlumpur. Kubangan lumpur diperlukan untuk melindungi kulitnya dari parasit dan pecah – pecah. Kerusakan habitsn menyebabkan badak hidup terisolasi sehingga menghambat perkembangbiakannya.
Pada tahun 1747, badak Jawa di pulau Jawa sangat banyak, mereka merusak tanah pertanian sehingga pemerintah pada saat iti membayar 10 crown untuk setiap badak yang dibunuh. Perintah tersebuut di keluarkan tahun 1747 dan ditari 2 tahun kemudian setelah 500 badak terbunuh.
Pada abad 19 badak jawa masih banyak terdapat di Jawa Tengah dan Jawa Barat. Pemerintah telah melindungi badak Jawa sejak tahun 1908. Meskipun demikian perburuan badak terus berlangsung. Dari tahhun 1929 – 1967 sekitar 42 badak mati akibat di buru manusia.
Sejak tahun 1967, pemerintah indonesia bekerja sama dengan WWF dan IUCN melindungi badak di Ujung Kulon. Pada saat itu jumlah badak hanya 28 ekor. Berkat kerja sama tersebut jumlah badak meningkat menjadi lebih dari 54 ekor di tahun 1980.
Tahun 1985 dimulai usaha mengembangbiakkan badak Sumatra secara eks-situ (diluar habitat aslinya). Usaha tersebut dilakukan oleh pemerintah Indonesia bekerja sama dengan kelompok kebun binatang di Inggris dan Amerika. Dalam usaha ini , sekitar 11 badak telah dibawa ke luar negeri untuk dikembangbiakkan. Akan tetapi usaha tersebut kurang berhasil sehingga badak – badak tersebutt di lepas kembali untuk dibiakkan di areal hutan di habitat aslinya.
Badak Sumatra mempunyai masa kehamilan 16 bulan dengan jarak kelahiran 2 tahun. Pada kehamilan badak Jawa sekitar 14 – 19 bulan dengan jarak kelahiran 4 tahun. Dan setiap kali melahirkan hanya satu anak.
Dengan demikian badak merupakan mamalia yang berproduksi lambat, oleh karena itu peran kita sebagai masyarakat sangat penting dalam menjaga kelestarian badak agar tidak punah, serta pemikiran individualisme (untuk memperkaya diri) dengan menjual cula dan kulit badak harus di buang jauh – jauh, mengingat masa reproduksi badak yang lambat membuat populasi badak mulai menurun, apalagi kalau terjadi perburuan, maka lambat laun badak akan mengalami kepunahan dan anak cucu kita nanti tidak akan bisa melihat badak yang sesungguhnya.
Sumber :
Soetarmi.S. dkk. 1994. BIOLOGI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar