Rabu, 01 Desember 2010

GENETIKA


Secara etimologi kata ’genetika’ berasal dari kata ’genos’ dalam Bahasa Latin, yang berarti asal mula kejadian. Namun, genetika bukanlah ilmu tentang asal mula kejadian meskipun pada batas-batas tertentu memang ada kaitannya juga dengan hal itu. Genetika ialah ilmu yang mempelajari seluk-beluk alih informasi hayati dari generasi ke generasi. Oleh karena cara berlangsungnya alih informasi hayati tersebut mendasari adanya perbedaan dan persamaan sifat di antara individu organisme, maka dengan singkat dapat pula dikatakan bahwa genetika adalah ilmu tentang pewarisan sifat.
Hingga sekarang masih sering dijumpai berbagai pandangan yang kurang tepat mengenai pewarisan sifat. Pandangan atau faham semacam ini tidak hanya diperlihatkan oleh kalangan awam yang relatif kurang mengenal ilmu genetika, tetapi tanpa disadari berkembang juga di tengah masyarakat modern dengan tingkat pendidikan dan wawasan pengetahuan yang cukup memadai. Berikut ini dikemukakan beberapa kesalahfahaman yang berkaitan dengan pewarisan sifat, khususnya pada manusia.
1. Faham bahwa ayah lebih penting daripada ibu
Menurut faham ini gambaran dasar sifat seorang anak, terutama sifat fisiknya, hanya ditentukan oleh sosok ayahnya saja. Dalam hal ini ibu hanya berperan mengarahkan perkembangan selanjutnya. Jika anak diibaratkan sebagai buah atau biji mangga, maka ayah adalah pohon mangga dan ibu adalah tanah tempat biji mangga itu akan tumbuh.
Masyarakat paternalistik sebenarnya tanpa disadari masih menganut faham yang keliru ini. Padahal, jelas dapat dilihat bahwa baik ayah/tetua jantan maupun ibu/tetua betina akan memberikan kontribusi yang sama dalam menentukan sifat-sifat genetik anak/keturunan. Bahkan, untuk sifat-sifat yang diatur oleh faktor sitoplasmik, tetua betina memberikan kontribusi lebih besar daripada tetua jantan karena sitoplasma ovum jauh lebih banyak daripada sitoplasma spermatozoon.
2. Teori homunkulus (manusia kecil)
Segera setelah Anthony van Leeuvenhoek menemukan mikroskop, banyak orang melakukan pengamatan terhadap berbagai objek mikroskopis, termasuk di antaranya spermatozoon. Dengan mikroskop yang masih sangat sederhana akan terlihat bahwa spermatozoon terdiri atas bagian kepala dan ekor. Di dalam bagian kepala itulah diyakini bahwa struktur tubuh seorang anak telah terbentuk dengan sempurna dalam ukuran yang sangat kecil. Ketika spermatozoon membuahi ovum, maka ovum hanya berfungsi untuk membesarkan manusia kecil yang sudah ada itu. Jadi, pada dasarnya teori homunkulus justru memperkuat faham bahwa ayah lebih penting daripada ibu.
3. Faham yang menganggap ibu sebagai penanggung jawab atas jenis kelamin anak
Di kalangan masyarakat tertentu, misalnya masyarakat kerajaan, sering muncul pendapat bahwa anak laki-laki lebih dikehendaki kehadirannya daripada anak perempuan karena anak laki-laki dipandang lebih cocok untuk dapat dipercaya sebagai pewaris tahta. Jika setelah sekian lama anak laki-laki tidak kunjung diperoleh juga, maka istri/permaisuri sering dituding sebagai pihak yang menjadi penyebabnya sehingga perlu dicari wanita lain yang diharapkan akan dapat memberikan anak laki-laki.
Bab V akan menjelaskan bahwa manusia mengikuti sistem penentuan jenis kelamin XY. Dalam hal ini justru prialah, sebagai individu heterogametik (XY), yang akan menentukan jenis kelamin anak karena ia dapat menghasilkan dua macam spermatozoon, yakni X dan Y. Sementara itu, wanita sebagai individu homogametik (XX) hanya akan menghasilkan satu macam ovum (X).
4. Faham bahwa mutan adalah kutukan Tuhan/dewa
Individu yang dilahirkan dengan cacat bawaan hingga kini masih sering dianggap sebagai kutukan Tuhan/dewa. Dalam Bab VI diuraikan bahwa perubahan/mutasi jumlah dan struktur kromosom dapat mengakibatkan kelainan fisik dan mental pada individu yang mengalaminya. Sebagai contoh, kelainan yang dinamakan sindrom Down terjadi akibat adanya penambahan sebuah kromosom nomor 21, yang peluangnya akan meningkat pada wanita yang melahirkan di atas usia 45 tahun.
5. Teori abiogenesis
Filsuf Yunani terkenal, Aristoteles, memelopori faham yang menganggap bahwa makhluk hidup berasal dari benda mati. Faham yang dikenal sebagai teori abiogenesis ini ternyata kemudian terbukti tidak benar. Louis Pasteur dengan percobaannya berupa tabung kaca berbentuk leher angsa berhasil membuktikan bahwa makhluk hidup berasal dari makhluk hidup sebelumnya atau omne vivum ex ovo omne ovum ex vivo. Jadi, lalat berasal dari lalat, kutu berasal dari kutu, manusia berasal dari manusia, dan sebagainya. Dalam hal ini, ada sesuatu yang diabadikan dan diwariskan dari generasi ke generasi.
6. Faham tentang percampuran sifat
Faham ini dipelopori oleh filsuf Yunani lainnya, Hippocrates. Apabila dibandingkan dengan kelima faham yang telah dijelaskan sebelumnya, tingkat kesalahannya sebenarnya dapat dikatakan paling rendah. Menurut faham ini, sifat seorang anak merupakan hasil percampuran acak antara sifat ayah dan sifat ibunya.
Orang sering kali mendeskripsikan sifat bagian-bagian tubuh seorang anak seperti mata, rambut, hidung, dan seterusnya, sebagai warisan dari ayah atau ibunya. Katakanlah, hidungnya mancung seperti ayahnya, rambutnya ikal seperti ibunya, kulitnya kuning seperti ibunya, dan sebagainya. Sepintas nampaknya pandangan semacam ini sah-sah saja. Namun, sekarang kita telah mengetahui dengan pasti bahwa sebenarnya bukanlah sifat-sifat tersebut yang dirakit dalam tubuh anak, melainkan faktor (gen) yang menentukan sifat-sifat itulah yang akan diwariskan oleh kedua orang tua kepada anaknya.
7. Faham tentang pewarisan sifat nongenetik
Pada dasarnya hampir semua sifat yang nampak pada individu organisme merupakan hasil interaksi antara faktor genetik dan faktor lingkungan (nongenetik). Besarnya kontribusi masing-masing faktor ini berbeda-beda untuk setiap sifat, seperti akan dijelaskan di dalam Bab XII.
Beberapa sifat tertentu, yang sebenarnya jauh lebih banyak dipengaruhi oleh faktor nongenetik, kenyataannya justru sering kali dianggap sebagai sifat genetik. Akibatnya, cara menyikapinya pun menjadi kurang tepat. Sebagai contoh, seorang pakar ilmu pengetahuan dengan tingkat kecerdasan intelektual yang sangat tinggi tidak serta-merta akan mewariskan kecerdasannya itu kepada anaknya. Tanpa kerja keras dan usaha yang dilakukan dengan sungguh-sungguh akan sangat sulit bagi anak tersebut untuk dapat menyamai prestasi ayahnya.
Sejarah Perkembangan
Jauh sebelum genetika dapat dianggap sebagai suatu cabang ilmu pengetahuan, berbagai kegiatan manusia dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya tanpa disadari telah menerapkan prinsip-prinsip genetika. Sebagai contoh, bangsa Sumeria dan Mesir kuno telah berusaha untuk memperbaiki tanaman gandum, bangsa Cina mengupayakan sifat-sifat unggul pada tanaman padi, bangsa Siria menyeleksi tanaman kurma. Demikian pula, di benua Amerika dilakukan persilangan-persilangan pada gandum dan jagung yang berasal dari rerumputan liar. Sementara itu, pemuliaan hewan pun telah berlangsung lama; hasilnya antara lain berupa berbagai hewan ternak piaraan yang kita kenal sekarang.
Sejarah perkembangan genetika sebagai ilmu pengetahuan dimulai menjelang akhir abad ke-19 ketika seorang biarawan Austria bernama Gregor Johann Mendel berhasil melakukan analisis yang cermat dengan interpretasi yang tepat atas hasil-hasil percobaan persilangannya pada tanaman kacang ercis (Pisum sativum). Sebenarnya, Mendel bukanlah orang pertama yang melakukan percobaan-percobaan persilangan. Akan tetapi, berbeda dengan para pendahulunya yang melihat setiap individu dengan keseluruhan sifatnya yang kompleks, Mendel mengamati pola pewarisan sifat demi sifat sehingga menjadi lebih mudah untuk diikuti. Deduksinya mengenai pola pewarisan sifat ini kemudian menjadi landasan utama bagi perkembangan genetika sebagai suatu cabang ilmu pengetahuan, dan Mendel pun diakui sebagai Bapak Genetika.
Karya Mendel tentang pola pewarisan sifat tersebut dipublikasikan pada tahun 1866 di Proceedings of the Brunn Society for Natural History. Namun, selama lebih dari 30 tahun tidak pernah ada peneliti lain yang memperhatikannya. Baru pada tahun 1900 tiga orang ahli botani secara terpisah, yakni Hugo de Vries di Belanda, Carl Correns di Jerman, dan Eric von Tschermak-Seysenegg di Austria, melihat bukti kebenaran prinsip-prinsip Mendel pada penelitian mereka masing-masing. Semenjak saat itu hingga lebih kurang pertengahan abad ke-20 berbagai percobaan persilangan atas dasar prinsip-prinsip Mendel sangat mendominasi penelitian di bidang genetika. Hal ini menandai berlangsungnya suatu era yang dinamakan genetika klasik.
Selanjutnya, pada awal abad ke-20 ketika biokimia mulai berkembang sebagai cabang ilmu pengetahuan baru, para ahli genetika tertarik untuk mengetahui lebih dalam tentang hakekat materi genetik, khususnya mengenai sifat biokimianya. Pada tahun 1920-an, dan kemudian tahun 1940-an, terungkap bahwa senyawa kimia materi genetik adalah asam deoksiribonukleat (DNA). Dengan ditemukannya model struktur molekul DNA pada tahun 1953 oleh J.D. Watson dan F.H.C. Crick dimulailah era genetika yang baru, yaitu genetika molekuler.
Perkembangan penelitian genetika molekuler terjadi demikian pesatnya. Jika ilmu pengetahuan pada umumnya mengalami perkembangan dua kali lipat dalam satu dasawarsa, maka waktu yang dibutuhkan untuk itu (doubling time) pada genetika molekuler hanyalah dua tahun! Bahkan, perkembangan yang lebih revolusioner dapat disaksikan semenjak tahun 1970-an, yaitu pada saat dikenalnya teknologi manipulasi molekul DNA atau teknologi DNA rekombinan atau dengan istilah yang lebih populer disebut sebagai rekayasa genetika.
Saat ini sudah menjadi berita biasa apabila organisme-organisme seperti domba, babi, dan kera didapatkan melalui teknik rekayasa genetika yang disebut kloning. Sementara itu, pada manusia telah dilakukan pemetaan seluruh genom atau dikenal sebagai projek genom manusia (human genom project), yang diluncurkan pada tahun 1990 dan sebenarnya diharapkan selesai pada tahun 2005. Namun, ternyata penyelesaian proyek ini berjalan dua tahun lebih cepat daripada jadwal yang telah ditentukan.
Kontribusi ke Bidang-bidang Lain
Sebagai ilmu pengetahuan dasar, genetika dengan konsep-konsep di dalamnya dapat berinteraksi dengan berbagai bidang lain untuk memberikan kontribusi terapannya.
1. Pertanian
Di antara kontribusinya pada berbagai bidang, kontribusi genetika di bidang pertanian, khususnya pemuliaan tanaman dan ternak, boleh dikatakan paling tua. Persilangan-persilangan konvensional yang dilanjutkan dengan seleksi untuk merakit bibit unggul, baik tanaman maupun ternak, menjadi jauh lebih efisien berkat bantuan pengetahuan genetika. Demikian pula, teknik-teknik khusus pemuliaan seperti mutasi, kultur jaringan, dan fusi protoplasma kemajuannya banyak dicapai dengan pengetahuan genetika. Dewasa ini beberapa produk pertanian, terutama pangan, yang berasal dari organisme hasil rekayasa genetika atau genetically modified organism (GMO) telah dipasarkan cukup luas meskipun masih sering kali mengundang kontroversi tentang keamanannya.
2. Kesehatan
Salah satu contoh klasik kontribusi genetika di bidang kesehatan adalah diagnosis dan perawatan penyakit fenilketonuria (PKU). Penyakit ini merupakan penyakit menurun yang disebabkan oleh mutasi gen pengatur katabolisme fenilalanin sehingga timbunan kelebihan fenilalanin akan dijumpai di dalam aliran darah sebagai derivat-derivat yang meracuni sistem syaraf pusat. Dengan diet fenilalanin yang sangat ketat, bayi tersebut dapat terhindar dari penyakit PKU meskipun gen mutan penyebabnya sendiri sebenarnya tidak diperbaiki.
Beberapa penyakit genetik lainnya telah dapat diatasi dampaknya dengan cara seperti itu. Meskipun demikian, hingga sekarang masih banyak penyakit yang menjadi tantangan para peneliti dari kalangan kedokteran dan genetika untuk menanganinya seperti berkembangnya resistensi bakteri patogen terhadap antibiotik, penyakit-penyakit kanker, dan sindrom hilangnya kekebalan bawaan atau acquired immunodeficiency syndrome (AIDS).
3. Industri farmasi
Teknik rekayasa genetika memungkinkan dilakukannya pemotongan molekul DNA tertentu. Selanjutnya, fragmen-fragmen DNA hasil pemotongan ini disambungkan dengan molekul DNA lain sehingga terbentuk molekul DNA rekombinan. Apabila molekul DNA rekombinan dimasukkan ke dalam suatu sel bakteri yang sangat cepat pertumbuhannya, misalnya Escherichia coli, maka dengan mudah akan diperoleh salinan molekul DNA rekombinan dalam jumlah besar dan waktu yang singkat. Jika molekul DNA rekombinan tersebut membawa gen yang bermanfaat bagi kepentingan manusia, maka berarti gen ini telah diperbanyak dengan cara yang mudah dan cepat. Prinsip kerja semacam ini telah banyak diterapkan di dalam berbagai industri yang memproduksi biomolekul penting seperti insulin, interferon, dan beberapa hormon pertumbuhan.
4. Hukum
Sengketa di pengadilan untuk menentukan ayah kandung bagi seorang anak secara klasik sering diatasi melalui pengujian golonan darah. Pada kasus-kasus tertentu cara ini dapat menyelesaikan masalah dengan cukup memuaskan, tetapi tidak jarang hasil yang diperoleh kurang meyakinkan. Belakangan ini dikenal cara yang jauh lebih canggih, yaitu uji DNA. Dengan membandingkan pola restriksi pada molekul DNA anak, ibu, dan orang yang dicurigai sebagai ayah kandung si anak, maka dapat diketahui benar tidaknya kecurigaan tersebut.
Dalam kasus-kasus kejahatan seperti pembunuhan, pemerkosaan, dan bahkan teror pengeboman, teknik rekayasa genetika dapat diterapkan untuk memastikan benar tidaknya tersangka sebagai pelaku. Jika tersangka masih hidup pengujian dilakukan dengan membandingkan DNA tersangka dengan DNA objek yang tertinggal di tempat kejadian, misalnya rambut atau sperma. Cara ini dikenal sebagai sidik jari DNA (DNA finger printing). Akan tetapi, jika tersangka mati dan tubuhnya hancur, maka DNA dari bagian-bagian tubuh tersangka dicocokkan pola restriksinya dengan DNA kedua orang tuanya atau saudara-saudaranya yang masih hidup.
5. Kemasyarakatan dan kemanusiaan
Di negara-negara maju, terutama di kota-kota besarnya, dewasa ini dapat dijumpai klinik konsultasi genetik yang antara lain berperan dalam memberikan pelayanan konsultasi perkawinan. Berdasarkan atas data sifat-sifat genetik, khususnya penyakit genetik, pada kedua belah pihak yang akan menikah, dapat dijelaskan berbagai kemungkinan penyakit genetik yang akan diderita oleh anak mereka, dan juga besar kecilnya kemungkinan tersebut.
Contoh kontribusi pengetahuan genetika di bidang kemanusiaan antara lain dapat dilihat pada gerakan yang dinamakan eugenika, yaitu gerakan yang berupaya untuk memperbaiki kualitas genetik manusia. Jadi, dengan gerakan ini sifat-sifat positif manusia akan dikembangkan, sedangkan sifat-sifat negatifnya ditekan. Di berbagai negara, terutama di negara-negara berkembang, gerakan eugenika masih sering dianggap tabu. Selain itu, ada tantangan yang cukup besar bagi keberhasilan gerakan ini karena pada kenyataannya orang yang tingkat kecerdasannya tinggi dengan status sosial-ekonomi yang tinggi pula biasanya hanya mempunyai anak sedikit. Sebaliknya, orang dengan tingkat kecerdasan dan status sosial-ekonomi rendah umumnya justru akan beranak banyak.
Materi Percobaan
Di dalam berbagai penelitian genetika hampir selalu digunakan organisme sebagai materi percobaan. Ada beberapa persyaratan umum agar suatu organisme layak digunakan sebagai materi percobaan genetika, khususnya pada persilangan-persilangan untuk mempelajari pola pewarisan suatu sifat.
1. Keanekaragaman
Membedakan warna daun di antara varietas-varietas padi dengan sendirinya akan jauh lebih sulit daripada mengamati warna bunga pada berbagai jenis anggrek. Jadi, sifat-sifat seperti warna daun padi kurang memenuhi syarat untuk dipelajari pola pewarisannya karena keanekaragaman (variasi)-nya sangat rendah.
2. Daya gabung
Analisis genetik pada suatu spesies akan lebih cepat memberikan hasil apabila spesies tersebut memiliki cara yang efektif dalam menggabungkan sifat kedua tetua (parental) persilangan ke dalam sifat keturunannya. Sebagai contoh, organisme dengan sterilitas sendiri atau sterilitas silang akan sulit menggabungkan sifat kedua tetua kepada keturunannya sehingga organisme semacam ini semestinya tidak digunakan untuk mempelajari pola pewarisan suatu sifat.
3. Persilangan terkontrol
Tikus, lalat buah (Drosophila sp), dan jagung sering digunakan sebagai materi percobaan genetika karena ketiga organisme tersebut sangat mudah untuk dikontrol persilangannya. Kita dapat memilih tetua sesuai dengan tujuan percobaan. Begitu pula, pencatatan keturunan mudah untuk dilakukan dalam beberapa generasi.
4. Daur hidup
Organisme yang memiliki daur hidup pendek seperti lalat Drosophila, tikus, dan bakteri sangat cocok untuk digunakan sebagai materi percobaan genetika. Drosophila dapat menghasilkan 20 hingga 25 generasi tiap tahun, tikus menjadi dewasa hanya dalam waktu enam minggu, sedangkan bakteri mempunyai daur hidup sekitar 20 menit.
5. Jumlah keturunan
Seekor lalat Drosophila betina dapat bertelur ribuan butir semasa hidupnya. Organisme dengan jumlah keturunan yang besar seperti Drosophila itu memenuhi persyaratan sebagai materi percobaan genetika.
6. Kemudahan dalam pengamatan dan pemeliharaan
Dua hal di bawah ini kembali memperlihatkan bahwa lalat Drosophila sangat cocok untuk digunakan dalam penelitian genetika. Pertama, dengan kromosom yang ukurannya relatif besar dan jumlahnya hanya empat pasang, Drosophila merupakan organisme yang sangat mudah untuk diamati kromosomnya. Kedua, penanganan kultur Drosophila di laboratorium sangat mudah dikerjakan. Hanya dengan media yang komposisi dan pembuatannya sederhana, lalat buah ini akan tumbuh dan berkembang biak dengan cepat.

Jumat, 17 September 2010

1.PENDAHULUAN
Entamoeba histolytica merupakan salah satu spesies dari Rhizopoda. Pertama kali ditemukan oleh Losch pada tahun 1875 dari tinja seorang penderita disentri di Rusia. Schaudinn berhasil membedakannya dengan Entamoeba coli yan merupakan parasit komersial di dalam usus besar. Pada tahun 1913, Walker dan Sellards membuktikan bahwa Entamoeba histolytica merupakan penyebab penyakit koletis amebic (Srisasi Gandahusada, dkk, 2006).

1.2HOSPES
Hospes parasit ini adalah manusia. Penyakit yang menjadi akibat dari adanya Entamoeba histolitica disebut amebiasis (anonym, 2009).

1.3DISTRIBUSI GEOGRAFIK
Amebiasis terdapat di seluruh dunia atau bersifat kosmopolit. Parasit ini terutama ada di daerah tropic dan daerah beriklim sedang (Srisasi Gandahusada, dkk, 2003).

1.4MORFOLOGI
Entamoeba histolytica mempunyai tiga stadium, yaitu bentuk histolitika, minuta dan kista. Bentuk histolitika yang bersifat pathogen dan bentuk minuta yang merupakan bentuk esensial adalah bentuk trofozoit, sedangkan bentuk kista bukan merupakan bentuk pathogen tapi merupakan bentuk infektif (Rasmaliah, 2003)

1.5DAUR HIDUP
Daur hidup E. histolytica sangat sederhana, dimana parasit ini didalam usus besar akan memperbanyak diri. Dari sebuah kista akan terbentuk 8 tropozoit yang apabila tinja dalam usus besar konsistensinya padat maka, tropozoit langsung akan terbentuk menjadi kista dan dikeluarkan bersama tinja, sementara apabila konsistensinya cair maka, pembentukan kista terjadi diluar tubuh. (Brotowidjoyo,1987).
Amoebiasis terdapat diseluruh dunia (kosmopolit) terutama didaerah tropikdan daerah beriklim sedang. Dalam daur hidupya Entamoeba histolytica memiliki 3stadium yaitu:
1. Bentuk histolitika.
2. Bentuk minuta
3. bentuk kista
Bentuk histolitika dan bentuk minuta adalah bentuk rofozoit. Perbedaan antarakedua bentuk tropozoit tersebut adalah bahwa bentuk histolytika bersifat fatogendan mempunyai ukuran yang lebih besar dari bentuk minuta. Bentuk histolitikaberukuran 20 – 40 mikron, mempunyai inti entamoeba yang terdapat di endoplasma.Ektoplasma bening homogen terdapat di bagian tepi sel, dapat dilihat dengan nyata.Pseudopodium yang dibentuk dari ektoplasma, besar dan lebih seperti daun, dibentuk dengan mendadak, pergerakannya cepat. Endoplasma berbutir halus, biasanya tidak mengandung bakteri atau sisa makanan, tetapi mengandung sel darah merah. Bentuk histolytica ini patogen dan dapat hidup dijaringan usus besar, hati, paru, otak, kulit dan vagina. Bentuk ini berkembang biak secara belah pasang di jaringan dan dapat merusak jaringan tersebut sesuai dengan nama spesiesnya Entomoeba histolitica (histo= jaringan, lysis = hancur).
Bentuk minuta adalah bentuk pokok esensial, tanpa bentuk minuta daur hidup tidak dapat berlangsung, besamya 10-20 mikron. Inti entamoeba terdapat di endoplasma yang berbutir-butir. Endoplasma tidak mengandung sel darah merah tetapi mengandung bakteri dan sisa makanan. Ektoplasma tidak nyata, hanya tampak bila membentuk pseudopodium. Pseudopodium dibentuk perlahan-lahan sehingga pergerakannya lambat. Bentuk minuta berkembang biak secara belah pasang dan hidup sebagai komensal di rongga usus besar, tetapi dapat berubah menjadi bentuk histolitika yang patogen.
Bentuk kista dibentuk di rongga usus besar, besamya 10 -20 mikron, berbentuk bulat lonjong, mempunyai dinding kista dan ada inti entamoeba. Dalam tinja bentuk ini biasanya berinti 1 atau 2, kadang-kadang terdapat yang berinti 2. Di endoplasma terdapat benda kromatoid yang besar, menyerupai lisong dan terdapat juga vakuol glikogen. Benda kromatoid dan vakuol glikogen dianggap sebagai makanan cadangan, karena itu terdapat pada kista muda. Pada kista matang, benda kromatoid dan vakuol glikogen biasanya tidak ada lagi. Bentuk kista ini tidak patogen, tetapi dapat merupakan bentuk infektif.
Entamoeba histolytica biasanya hidup sebagai bentuk minuta di rongga usus besar manusia, berkembang biak secara belah pasang, kemudian dapat membentuk dinding dan berubah menjadi bentuk kista. Kista dikeluarkan bersama tinja. Dengan adanya dinding kista, bentuk kista dapat bertahan terhadap pengaruh buruk di luar tubuh manusia (Rasmaliah, 2003)
1.6PATOLOGI DAN GEJALA KLINIS
Bentuk klinis yang dikenal ada dua, yaitu amebiasis intestinal dan amebiasis ekstra intestinal. Amebiasis kolon intestinal terdiri dari amebasis kolon akut dan amebasis kolon menahun. Amebasis kolon akut gejalanya berlangsung kurang dari satu bulan, biasa disebut disentri ameba memiliki gejala yang jelas berupa sindrom disentri. Amebasis kolon menahun gejalanya berlangsung lebih dari satu bulan, disebut juga koletis ulserosa amebic, gejalanya bersifat ringan dan tidak begitu jelas.
Amebasis ekstra intestinal terjadi jika amebasis kolon tidak diobati. Dapat terjadi secara hematogen, melalui aliran darah atau secara langsung. Hematogen terjadi bila amoeba telah masuk di submukosa porta ke hati dan menimbulkan abses hati, berisi nanah warna coklat. Cara langsung terjadi bila abses hati tidak diobati sehingga abses pecah, dan abses yang keluar mengandung ameba yang dapat menyebar kemana-mana.
1.7DIAGNOSIS
Cara mendiagnosa gangguan yang ditimbulkan oleh Entamoeba histolitica adalah sesuai dengan gejala atau gangguan yang terjadi, antara lain sebagai berikut :
1.Amebiasis kolon akut, diagnosis ditegakkan bila terdapat sindrom disentri disertai sakit perut atau mules. Diare lebih dari 10 kali dalam sehari. Dan diagnosis laboratorium ditegakkan dengan menemukan species ini dalam bentuk histolitika di dalam tinja (S.M. Salendu dan Worou, 1996)
2.Amebiasis kolon menahun, terdapat gejala ringan diselingi dengan obstipasi. Jika dalam tinja tidak ditemukan spesies ini, himbauan agar pemeriksaan tinja dilakukan secara berturut-turut selama tiga hari dapat juga dengan melihat kelainan di sigmoid
3.Amebiasis hati, secara klinis dapat dibuat jika terdapat gejala berat badan menurun, badan lemah, demam, tidak nafsu makan disertai pembesaran hati. Pada pemeriksaan radiologi biasanya didapatkan peninggian diafragma dan pemeriksaan darah ada leukositosis (Srisasi Gandahusada, 2006).
1.8PENGOBATAN
Obat untuk gangguan yang disebabakan oleh Entamoeba histolitika antara lain Emetin hidroklorida, Klorokuin, Antibiotik dan Metronidazol atau Nitroimidazol.
1.9PENCEGAHAN
Cara untuk mencegah agar tidak menderita gangguan yang disebabkan oleh Entamoeba histolitica antara lain sebagai berikut :
1.Tidak makan makanan mentah (sayuran,daging babi, daging sapi dan daging ikan), buah dan melon dikonsumsi setelah dicuci bersih dengan air.
2.Minum air yang sudah dimasak mendidih baru aman.
3.Menjaga kebersihan diri, sering gunting kuku, membiasakan cuci tangan menjelang makan atau sesudah buang air besar.
4.Tidak boleh buang air kecil/besar di sembarang tempat, tidak menjadikan tinja segar sebagai pupuk; tinja harus dikelola dengan tangki septik, agar tidak mencemari sumber air.
5.Di Taman Kanak Kanak dan Sekolah Dasar harus secara rutin diadakan pemeriksaan parasit, sedini mungkin menemukan anak yang terinfeksi parasit dan mengobatinya dengan obat cacing.
6.Bila muncul serupa gejala infeksi parasit usus, segera periksa dan berobat ke rumah sakit.
7.Meski kebanyakan penderita parasit usus ringan tidak ada gejala sama sekali, tetapi mereka tetap bisa menularkannya kepada orang lain, dan telur cacing akan secara sporadik keluar dari tubuh bersama tinja, hanya diperiksa sekali mungkin tidak ketahuan, maka sebaiknya secara teratur memeriksa dan mengobatinya

Jumat, 28 Mei 2010

PENCEMARAN UDARA

Wilayah yang penduduknya sangat padat membutuhkan bahan bakar dalam jumlah besar, terutama minyak. Bahan bakar minyak sampai saat ini masih belum bisa tergantikah oleh bahan bakar lainnya, sehingga penggunaan minyak bumi sebagai energi semakin berkembang. Minyak bumi tersebut pada umumnya digunakan dibidang industri dan transportasi. Minyak terdiri dari zat – zat organik, mengalami pembakaran dalam penggunaannya. Zat organik tersebut pada umumnya mengalami proses pebakaran yang tak sempurna menimbulkan sisa pembakaran dalam bentuk gas maupun padat.
Sebagai contoh, asap kendaraan serta asap dan jelaga yang di keluarkan dari pabrik merupakan bahan pencemar udara (polutan). Polutan dapat di lepaskan dalam bentuk gas CO (karbon monoksida), CO 2 (karbon dioksida), NO2, SO2, maupun bentuk partikel seperti Pb. Zat – zat tersebut mengubah struktur udara yang kita hirup. Efek polutan terhadap tubuh manusia, sebagai contoh CO2 menyebabkan fungsi darah terganggu. Bila udara yang kita hirup mengandung unsur tersebut maka hemolobin yang seharusnya mengikat O2 akan mengkat CO2. Akaibatnya tubuh kekurangan O2 seningga untuk memenuhi kebutuhan oksigen, jantung dan paru – paru harus bekerja keras.
Bila hal itu berlangsung terus menerus dapat menimbulkan pusing – pusing, daya penglihatan berkurang, mual dan koordinasi otot menurun. Keadaan ini dapat dialami oleh pengendara kendaraan bermotor di kota – kota yang penduduknya padat.
 Strategi pengendalian pencemaran udara
1. Pencegahan pencemaran udara ; Mengurangi kuantitas pergerakan kendaraan yang tidak perlu tanpa mengurangi fungsi sosial atau ekonomi, penggalaan bahan bakar non-minyak disetiap transportasi, peningkatan kesadaran dan tanggung jawab masyarakat pada kualitas udara.
2. Pengendalian sumber pencemaran udara ; Peningkatan kualitas bahan bakar, penerapan ambang batas emisi gas buang kendaraan, penerapan sistem transportasi dan pengelolaan lalu lintas yang efektif.
3. Pemantauan kualitas udara ; pemantauan udara ambien secara optimal, penguatan sistem pemantauan kualitas udara, penyusunan basis data inventarisasi emisi yang berkelanjutan, penyebar luasan informasi secar teratur.
4. Pemantauan dampak pencemaran udara ; pemantauan dan evaluasi dampak pencemaran udara pada tanaman, penurunan pencemaran udara dalam rangka mengurangi dampak gas rumah kaca.
5. Penguatan kelembagaan ; pembentukan perda pencemaran udara, pembentukan tim koordinasi peningkatan kualitas udara perkotaan, penguatan penegakan hukum, mobilisasi sumber pendanaan untuk peningkatan kualitas udara, pembinaan daerah untu upaya peningkatan kualitas udara perkotaan.

 Hasil yang di harapkan
1. Terciptanya udara bersih yang layak hirup
2. Meningkatnya taraf kesehatan.

Selasa, 18 Mei 2010

DUKUNG PELESTARIAN BADAK JAWA

Suatu hal yang mengherankan, dunia banyak mengetahui tentang dua spesies badak afrika, yaitu badak putih (Ceratotherium simum) dan badak hitam (Diceros bicornis). Sebaliknya, sedikit yang diketahui tentang tiga spesies badak asia, yaitu badak india (Rhinoceros unicornis), badak jawa (Rhinoceros sondaicos), dan badak Sumatra (Dicerirhinus sumatrensis). Hal ini mungkin terjadi karena badak Afrika sering berada di dataran terbuka sehingga mudah di lihat dan di foto, berbeda dengan badak Asia yang kurang agresif, pemalu, dan lebih senang berlindung di kerimbunan pohon, hutan tropis sehingga jarang terlihat. Kedua spesies badak yang ada di Indosesia yaitu badak jawa dan sumatra merupakan hewan yang dilindungi.
 Ciri – ciri Badak Jawa dan Badak Sumatra
Badak jawa berukuran panjang 305 – 320 cm. kulit berwarna abu – abu gelap dan berlipat – lipat, serta tidak mempunyai rambut. Badak ini bercula satu, akan tetapi pada betina kurang jelas sehingga tampak seperti tidak bercula.
Badak sumatra merupakan badak terkecil di dunia, tingginya sekitar 100 – 135 cm, panjang 250 – 280 cm, dan berat 800 – 1000 kg. kulit badak sumatra tidak mempunyai lipatan yang jelas, dan kultnya mempunyai rambut, badak ini bercula dua tapi sering kali cula kedua tidak begitu jelas dan hany seperti benjolan.
Kedua spesies tersebut merupakanhewan pemakan tumbuhan. Mereka memakan lebih dari 100 spesies tanaman dari 61 famili tanaman. Untuk hidupnya badak memerlukan daerah yang luas, sekitar 100 km² per badak. Urin dan butiran kotoran berguna untuk menandai daerah kekuasaannya atau kehadirannya.
Badak jawa dan sumatra merupakan hewan langka di dunia. Hal tersebut tersebut di tetapkan oleh WWF (World Fun for Nature) dan IUCN(International Union for Conservation of Nature and Natura). Hewan tersebut juga dilindungi oleh pemerintah indosnesia.
Pemusatan hewan di satu tempat dapat berbahaya jika terjadi bencana alam, letusan gunung bearapi, kelaparan, perburuann oleh manusia, dan penyakit. Sebagai contoh adalah terjadinya kematian misterius 5 ekor badak Jawa di ujung kulon pada tahun 1982 yang di duga akibat inveksi sejenis antrax yang biasanya menyerang ternak.
Badak diburu secara ilegal terutama untuk di ambil culanya, culanya dipercaya banyak orang dapat menyembuhkan demam dan menambah kekuatan. Sebenarnya cula badak tersusun atas karatin, sama seperti bahan penyusun kuku dan rambut manusia.
Badak mempunyai pola perjalanan yang sama. Dengan kata lain, badak selalu melalui jalan yang sama untuk menuju suatu tempat. Hal ini memudahkan pemburu membuat perangkap untuk menangkapnya. Pemburu hanya badak masuk perangkapnya kemudian membunuhnya.
Badak juga terancam punah karena habitatnya rusak oleh pembatasan hutan untuk pertanian, industri, dan tempat tinggal manusia. Keadaan ini menyebabkan badak menyingkir ke hutan yang lebih tinggi. Padahal sebenarnya badak lebih menyukai hutan lebat di dataranrendah yang berlumpur. Kubangan lumpur diperlukan untuk melindungi kulitnya dari parasit dan pecah – pecah. Kerusakan habitsn menyebabkan badak hidup terisolasi sehingga menghambat perkembangbiakannya.
Pada tahun 1747, badak Jawa di pulau Jawa sangat banyak, mereka merusak tanah pertanian sehingga pemerintah pada saat iti membayar 10 crown untuk setiap badak yang dibunuh. Perintah tersebuut di keluarkan tahun 1747 dan ditari 2 tahun kemudian setelah 500 badak terbunuh.
Pada abad 19 badak jawa masih banyak terdapat di Jawa Tengah dan Jawa Barat. Pemerintah telah melindungi badak Jawa sejak tahun 1908. Meskipun demikian perburuan badak terus berlangsung. Dari tahhun 1929 – 1967 sekitar 42 badak mati akibat di buru manusia.
Sejak tahun 1967, pemerintah indonesia bekerja sama dengan WWF dan IUCN melindungi badak di Ujung Kulon. Pada saat itu jumlah badak hanya 28 ekor. Berkat kerja sama tersebut jumlah badak meningkat menjadi lebih dari 54 ekor di tahun 1980.
Tahun 1985 dimulai usaha mengembangbiakkan badak Sumatra secara eks-situ (diluar habitat aslinya). Usaha tersebut dilakukan oleh pemerintah Indonesia bekerja sama dengan kelompok kebun binatang di Inggris dan Amerika. Dalam usaha ini , sekitar 11 badak telah dibawa ke luar negeri untuk dikembangbiakkan. Akan tetapi usaha tersebut kurang berhasil sehingga badak – badak tersebutt di lepas kembali untuk dibiakkan di areal hutan di habitat aslinya.
Badak Sumatra mempunyai masa kehamilan 16 bulan dengan jarak kelahiran 2 tahun. Pada kehamilan badak Jawa sekitar 14 – 19 bulan dengan jarak kelahiran 4 tahun. Dan setiap kali melahirkan hanya satu anak.
Dengan demikian badak merupakan mamalia yang berproduksi lambat, oleh karena itu peran kita sebagai masyarakat sangat penting dalam menjaga kelestarian badak agar tidak punah, serta pemikiran individualisme (untuk memperkaya diri) dengan menjual cula dan kulit badak harus di buang jauh – jauh, mengingat masa reproduksi badak yang lambat membuat populasi badak mulai menurun, apalagi kalau terjadi perburuan, maka lambat laun badak akan mengalami kepunahan dan anak cucu kita nanti tidak akan bisa melihat badak yang sesungguhnya.

Sumber :
Soetarmi.S. dkk. 1994. BIOLOGI





DUKUNG PELESTARIAN BADAK JAWA

Rabu, 12 Mei 2010

KAWASAN KARST


Bicara mengenai kawasan karst, Indonesia mempunyai kawasan karst yang sangat luas sekitar ± 15.4 juta hektar, yang tersebar di beberapa wilayah diantaranya, Pulau Sumatera, Jawa, Madura, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, Maluku, dan pulau – kecil lainnya. Kawasan karst Indonesia mempunyai keanekaragaman hayati maupun non-hayati yang mepunyai nilai – nilai estetika, ilmiah, sejarah, ekonomi, dan social-budaya, sehingga sangat menarik minat nasional dan dunia internasional. Kawasan karst lauser dan pegunungan tengah di papua telah di tetapkan sebagai cagar alam warisan dunia.

KarsT merupakan bentang alam yang sangat menarik dimana berupa bentang alam yang berkembang pada batuan yang mudah larut oleh air, khususnya pada batu gamping. Air hujan dengan karbondioksida akan melarutkan batu gamping sehingga di permukaan membentuk bukit dan lembah , sedang di dalam sebagai proses pelarutan tadi akan membentuk gua dengan berbagai bentukan ornamen yang indah dan terdapat pula sungai bawah tanah.

Proses karstifikasi secara alami akan berlangsung selama ribuan bahkan jutaan tahun dan di pengaruhi oleh banyak faktor . tatanan geologi dan sisem tata air merupakan pengendali utama proses karstifikasi.

Ø Karst Gunung Sewu

Gunung sewu di kenal sebagai kawasan karst yang mempunyai bentuk bukit kerucut dan, luas kawasan ini sekitar ± 13.000 Km² yang setidaknya terdapat 40.000 bukit kerucut , selain bukit kerucut Gunung sewu memiliki lembah kering sepanjang 22 km yang membujura arah utara-selatan, dimulai dari giritontro hingga pantai sadeng.

Masuknya sungai permukaan ke dalam gua suci dan muncul kembali pada beberapa luweng (doline dengan lubangnya vertical), selanjutnya bergabung dengan sungai bawah tanh lainnya, dan muncul di permukaan tanah sebagai mata air di Baron di pantai selatan, serta berbagai fenomena lainnya.

Aspek lain yang terdapat dikawasan ini adalah adanya situs arkeologi, potensi obyek wisata alam, serta biodiversitasnya.


Ø Karst Gombong

Karst gombong membentuk perbukitan pegunungan karangbolong memanjang dari pantaii selatan kearah perbukitan ke bagian utara ketinggian berkisara antara 5 – 400 mdpl dan berbatasan dengan dataran pantai.

Karst Gombong merupakan perbukitan kerucut segi lima yang biasa di sebut sebai cockpt Hill. Bukit kerucut dengan lerengnya yang terjal dan lekuk – lekuk tertutup meruncing ke bagian bawah.


To be continue….